Webinar Ketahanan Mental Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2025
Surabaya, 26 September 2025 — Webinar yang dilaksanakan pada tanggal 26 September 2025 pukul 13.00–15.00 WIB melalui Zoom dan dihadiri 430 mahasiswa baru FEB 2025 ini menghadirkan dua materi utama. Materi pertama disampaikan oleh Ibu Putri Ulfa Kamalia, S.Pd., M.Pd., selaku Koordinator Bimbingan dan Konseling Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya, mengenai “Perjalanan yang akan ditempuh selama di UNESA.” Materi kedua disampaikan oleh Ibu Putri Aisyiyah R.D., S.Sos., M.Med.Kom., selaku Kasi Prevensi dan Intervensi Universitas Negeri Surabaya mengenai “Gen Z dan Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia.”
Pada materi pertama disimpulkan bahwa homesick adalah hal yang wajar dialami mahasiswa baru sebagai bentuk kuatnya ikatan emosional dengan keluarga, dan dapat dikelola melalui komunikasi yang baik, keaktifan dalam kegiatan, serta pembangunan jejaring sosial baru. Culture shock dapat diatasi dengan sikap terbuka namun tetap memegang prinsip, keberanian bertanya, dan saling menghargai dalam perbedaan. Adaptasi sistem perkuliahan menuntut pemahaman karakteristik dosen, pemanfaatan fasilitas digital UNESA seperti SSO, myUnesa, dan e-konseling, serta strategi pencarian literatur ilmiah yang tepat. Persiapan TEP dengan skor minimal 427 perlu direncanakan sejak dini melalui latihan rutin dan pelatihan gratis dari Pusat Bahasa UNESA. Adapun kunci sukses kuliah tepat waktu adalah perencanaan matang dengan tujuan SMART, pemanfaatan sumber daya kampus, membangun relasi luas, dan menjaga keseimbangan melalui istirahat yang cukup.
Sementara itu, materi kedua menyimpulkan bahwa kekerasan berbasis gender di kalangan Gen Z bukan hanya masalah individu, tetapi juga merupakan produk relasi hierarkis dan budaya kekerasan yang mengakar di lingkungan kampus. Kekerasan berbasis gender online (KBGO) menjadi tantangan serius, dengan peningkatan kasus hingga 14,17% pada tahun 2024. Gen Z sebagai generasi digital native memiliki kerentanan sosial, namun juga berpotensi besar menjadi agen perubahan melalui platform digital. Upaya pencegahan dan mitigasi memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi, kesadaran digital, hingga partisipasi aktif dalam gerakan anti-kekerasan.
Share It On: