Webinar Ketahanan Mental Fakultas Ilmu Pendidikan 2025
Surabaya, 19 September 2025 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya menggelar webinar bertema "Ketahanan Mental Mahasiswa Baru" pada Jumat, 12 September 2025, pukul 13.00-15.00 WIB melalui platform Zoom. Acara yang khusus ditujukan untuk mahasiswa baru angkatan 2025 ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk mempersiapkan mental dan psikologis mahasiswa dalam menghadapi dinamika kehidupan kampus yang kompleks. Webinar ini mengusung misi strategis untuk membekali para mahasiswa baru dengan pemahaman komprehensif tentang adaptasi akademik sekaligus kesadaran terhadap isu-isu sosial kontemporer yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental mereka.
Materi pertama dalam webinar ini disampaikan oleh Dr. Denok Setiawati, M.Pd., Kons., yang menjabat sebagai Koordinator Bimbingan dan Konseling FIP UNESA. Dengan pengalaman luas di bidang konseling pendidikan, beliau mengulas secara mendalam tentang strategi adaptasi dan pemanfaatan optimal sumber daya kampus. Dr. Denok menekankan bahwa homesick merupakan fenomena natural yang justru menunjukkan kualitas ikatan emosional yang sehat dengan keluarga, namun perlu dikelola melalui komunikasi yang terjaga, keterlibatan aktif dalam kegiatan kampus, dan pembangunan jaringan sosial baru. Beliau juga menguraikan pentingnya sikap terbuka dalam menghadapi culture shock sambil tetap mempertahankan prinsip personal, serta strategi adaptasi terhadap sistem perkuliahan yang mencakup pemahaman karakteristik dosen dan pemanfaatan maksimal fasilitas digital UNESA seperti SSO, myUnesa, dan layanan e-konseling.
Sesi kedua dipresentasikan oleh Putri Aisyiyah R.D., S.Sos., M.Med.Kom., Kepala Seksi Prevensi dan Intervensi, yang mengangkat topik krusial mengenai "Gen Z dan Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia". Dengan pendekatan multidisipliner, beliau menganalisis fenomena kekerasan berbasis gender sebagai permasalahan struktural yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga merupakan produk dari relasi hierarkis dan budaya kekerasan yang telah mengakar dalam lingkungan akademik. Data yang dipaparkan menunjukkan tren mengkhawatirkan peningkatan kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) hingga 14,17% pada tahun 2024, yang menjadi tantangan serius bagi generasi digital native seperti Gen Z. Presentasi ini memberikan perspektif yang seimbang tentang karakteristik unik Gen Z sebagai generasi yang rentan secara sosial namun sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan melalui pemanfaatan platform digital.
Kedua materi dalam webinar ini menghasilkan sejumlah kesimpulan strategis yang dapat menjadi panduan praktis bagi mahasiswa baru. Dari sesi pertama, peserta memperoleh pemahaman bahwa kesuksesan akademik memerlukan perencanaan matang dengan pendekatan SMART goals, pemanfaatan maksimal sumber daya kampus, pembangunan relasi yang luas, dan menjaga keseimbangan hidup melalui istirahat yang memadai. Sementara itu, materi kedua menegaskan perlunya pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan mitigasi kekerasan berbasis gender, mulai dari edukasi intensif, peningkatan kesadaran digital, hingga partisipasi aktif dalam gerakan anti-kekerasan. Kedua narasumber juga menekankan pentingnya persiapan dini untuk Test of English Proficiency (TEP) dengan target skor minimal 427 melalui latihan rutin dan pemanfaatan program pelatihan gratis dari Pusat Bahasa UNESA.
Webinar ini tidak hanya berfungsi sebagai forum edukasi, tetapi juga sebagai langkah konkret UNESA dalam membangun sistem support yang komprehensif bagi mahasiswanya. Universitas telah menyediakan infrastruktur dukungan melalui hotline pengaduan kekerasan yang dapat diakses melalui website https://dppisk.unesa.ac.id/ dan layanan WhatsApp 081230055244. Inisiatif ini menunjukkan komitmen serius UNESA dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan kondusif bagi perkembangan mahasiswa. Melalui webinar ini, diharapkan mahasiswa baru FIP angkatan 2025 dapat mengembangkan resiliensi mental yang kuat, tidak hanya untuk menghadapi tantangan akademik, tetapi juga untuk menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan sosial yang ada di masyarakat.
Share It On: